Jemariku kaku diatas papan ketik,
lama aku terpaku pada layar putih kosong. Begitu banyak yang ingin aku tuangkan
dalam tulisan bersajak. Aku ingin perasaanku mengalir dalam tulisan, tanpa
paksaan,tanpa tambahan, tanpa bantahan.
Sebaik-baiknya bercerita adalah
menuangkan isi hatimu kedalam barisan-barisan kalimat untuk kau baca setelahnya, karena sebaik-baiknya
memahami adalah ketika berhasil memahami dirimu sendiri.
Biar kusimpulkan dalam satu kata,
jenis perasaan apa yang menemaniku saat ini agar kita berpacu pada satu topik
saja.
Sepi.
Aku kembali ke diriku yang dulu.
Kembali membentengi diri. Ku habiskan waktu dengan segala kesibukan-kesibukan
yang sengaja aku ciptakan.
Aku tidak butuh didampingi.
Aku tidak butuh penyemengat.
Aku tidak butuh.
Tapi,
Aku rindu.
Pada dasarnya apa yang ku
bentengi adalah sesuatu yang rapuh. Terlalu rapuh untuk dirapuhkan lagi. Tapi
lambat laun,
ia kesepian
Aku pernah dalam keadaan
membentengi diri setelah dirapuhkan, tapi seseorang datang menawarkan bahagia.
Ku beranikan diri untuk jatuh hati sekali lagi.
Hasilnya?
Aku pergi dan kembali membentengi
diri.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Sore itu kelabu tapi tidak
berhujan. Aku dan dua orang sahabat
lamaku sedang berbincang disalah satu cafe
tengah kota. Mereka sedang sibuk membicarakan tentang pasangannya
masing-masing. Sesekali aku tertawa pelan menyadari atmosfir bahagia keduanya.
Ku buang pandanganku ke arah jendela. Langit semakin gelap, sebentar lagi
mungkin akan hujan.
Hujan.
Kuusap cangkir kopiku sambil
kembali melamunkan sesuatu yang sudah berlalu begitu lama. Tiba-tiba seisi cafe terpenuhi dengan lagu yang begitu familiar ditelingaku. Aku tersenyum
kecil.
Aku selalu suka hujan dibulan
desember..//
Dulu aku sering mendengarnya
bersenandung lagu itu. Entah ia sedang mengingat siapa,aku tidak peduli. Tapi
aku selalu suka mendengarnya. Aah. Ku sesap kembali kopiku seraya tersenyum
getir. Mengingatnya selalu membuatku bahagia. Aku selalu suka ketika
pikiranku kembali membawaku ke masa-masa
singkat itu. Saat ini bagiku, melamunkan
masa lalu bukan lagi tentang air mata sedih, tapi tentang bahagia-bahagia yang
telah terlewatkan.
“ In shaa allah, akadnya setelah
lebaran tahun ini” ucap Gina dengan lantang tapi malu—malu. Ucapannya berhasil menarik kembali
perhatianku.
“Alhamdulillah..” Responku seraya
mengelus tangannya, ia balas tersenyum dan menangkup telapak tanganku.
“Kalau Cika, katanya tahun
depan..” Ujarnya lagi kemudian melempar pandangannya kearah Cika yang tengah
duduk berhadapan dengan kami.
“Haha in shaa allah.. Doakan saja”
Jawabnya bahagia. Ku balas dengan senyum hangat.
Kami sudah mendewasa. Topik kami
bukan lagi tentang mereka yang sedang naksir
kakak kelas kemudian patah hati dan bulan selanjutnya pdkt sama orang baru. Aku tertawa pelan mengingatnya. Daridulu, aku
selalu terbelakang kalau masalah ini, selalu mengambil posisi sebagai pendengar
dan responden paling setia.
“Kamu gimana, Mik?” tanya Gina
tanpa melepas senyum dari wajahnya.
“Cerita dong Mik, kamu selalu
jadi yang tertutup diantara kita bertiga..” timpal Cika yang kembali membuatku
tertawa pelan.
Aku kembali mengusap Cangkir
Kopiku yang masih hangat, kemudian mengalihkan perhatianku ke luar kaca
jendela. Hujan. Diluar sudah hujan. Aku tidak menjawab pertanyaan mereka. Ku
biarkan hening beberapa detik, kemudian mereka kembali berbincang dengan topik
baru. Dua orang itu selalu mengerti dengan sikapku. Mereka selalu bertanya
tanpa menuntut, selalu menunggu tanpa mencecar.
“Belum ada pikiran sampai sana..”
Ucapku yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka. Aku menatap mereka yang tiba-tiba
terdiam menunggu kalimat selanjutnya.
“Sekarang lagi dekat sama siapa?”
Tanya Gina berusaha memancing.
“Tidak ada.” Jawabku.
“Belum move on ya? C’mon mik..
ini sudah hampir tiga tahun semenjak kalian putus lho..” Balas Cika sedikit
kesal.
Aku mengerutkan kening.
“Sudah kok.. I’ve found someone new”
“Serius sudah move on? Trus, gimana? Siapa orangnya?
Sekarang dia dimana? Maksudmu tadi yang ngga dekat sama siapa-siapa itu apa?kamu
belum pernah cerita, saking lamanya kita bertiga ngga ketemu..” Tanya Cika dengan
antusiasmenya yang membuatku bingung seketika.
“ I’m done with him too..” Jawabku getir.
“Maksudnyaaaa?” Tanya Gina gemas.
“iya, sama dia juga sudah
selesai.. sudah ngga contact-an
lagi..”
“Aduh Mika.. what actually are you looking for? Atau ngga, cerita dulu deh
tentang dia yang berhasil buat kamu move
on tapi sekarang sudah ngga contact-an
lagi..” Tuntut cika yang terlihat semakin kesal. Tatapan mereka begitu tajam
mengarah padaku.
“Sudahlah, ngga perlu dibahas..”
Ujarku mencoba mengakhiri topik yang mulai mengintimidasiku.
“No..kamu yang mancing kita duluan.. I mean please mik, we’re not
17.. kita sudah cukup dewasa dan bukan remaja lagi untuk main-main..” Jelas
Gina mencoba bijaksana. Ok, here we go .
“ It’s just so hard for me untuk benar-benar jatuh hati sepenuhnya”
“Tapi kamu sudah move on kan? Artinya kamu sudah kembali
jatuh hati dong?”
“Belum sepenuhnya.. tapi hampir.. but you know, almost is never enough”
Jawabku.
“ So, tell us.. what’s make
you stop before make it enough?” tanya Cika.
“I’m leaving..” Kataku pelan. “Satu-satunya hal yang kusesali
darinya adalah dia tidak benar-benar menahanku untuk tidak pergi..aku juga
menyesal berakhir seperti ini..” Lanjutku semakin pelan sambil mengedikkan bahu
seraya kembali menyesap kopiku. Keningku mengkerut, kenapa kopinya jadi semakin
pahit? Ujarku dalam hati.
“dan kenapa kamu ingin pergi?”
tanya Gina.
Aku tertawa pelan. Pertanyaan
yang selalu membuatku tampak bodoh.
“Hm.., kalian tahu, terkadang
kita harus melepaskan sesuatu agar keadaan menjadi lebih baik, bahkan
kebahagiaan sekalipun..” aku menghela nafas panjang. “Dia menyerah dengan
sikapku, dan perlahan-lahan menyuruhku untuk berubah..makanya, kupikir aku
kembali jatuh ke orang yang salah..dia terlalu baik..”
“Lalu? Memangnya kamu ini jahat?
Memangnya kamu ngga pantas dapat laki-laki yang baik??” Sanggah Cika dengan
sedikit emosi.
“Cik.. Sangat sulit untuk
mendapatkan seseorang yang betul-betul paham dengan karakterku seperti kalian..
I mean, saya ingin dimengerti tanpa
harus dituntut untuk apapun.. I was
trying to make him stay.. but he
didn’t want.. dia bilang, dia tidak cukup mengerti bagaimana caraku
menyayanginya.. ”
“Ya artinya, dia bukan orang yang
salah mik, letak kesalahannya ada sama dirimu sendiri.. kurang-kurangilah sikap
cuekmu, egoismu.. karena tidak semua orang bisa terima itu..” Ujar Gina dengan
biijaksana.
Nasehat lama.
“Aku tahu.. tapi selain kalian, aku
mau dia bisa menerimaku, sedikit lagi lebih mengerti..sedikit lagi lebih
bersabar.. Dulu kupikir aku sudah tidak perlu untuk mencari siapa-siapa lagi,
karena bersamanya, aku merasa sudah tidak membutuhkan apapun.. I’m not a robot, i have feeling..”
---------------------------------------------------------------------------------------------
Aku menelangkupkan wajahku didepan layar laptop.
Kira-kira seperti itu.
Kira-kira semua yang kupikirkan
tertera cukup jelas dalam percakapan singkat sore itu.
Iya, Sepi.
