Rabu, 06 Juni 2018

I Have Feeling (CERPEN)





Jemariku kaku diatas papan ketik, lama aku terpaku pada layar putih kosong. Begitu banyak yang ingin aku tuangkan dalam tulisan bersajak. Aku ingin perasaanku mengalir dalam tulisan, tanpa paksaan,tanpa tambahan, tanpa bantahan.
Sebaik-baiknya bercerita adalah menuangkan isi hatimu kedalam barisan-barisan kalimat untuk  kau baca setelahnya, karena sebaik-baiknya memahami adalah ketika berhasil memahami dirimu sendiri.
Biar kusimpulkan dalam satu kata, jenis perasaan apa yang menemaniku saat ini agar kita berpacu pada satu topik saja.

Sepi.

Aku kembali ke diriku yang dulu. Kembali membentengi diri. Ku habiskan waktu dengan segala kesibukan-kesibukan yang sengaja aku ciptakan.

Aku tidak butuh didampingi.
Aku tidak butuh penyemengat.
Aku tidak butuh.
Tapi,
Aku rindu.

Pada dasarnya apa yang ku bentengi adalah sesuatu yang rapuh. Terlalu rapuh untuk dirapuhkan lagi. Tapi lambat laun,

ia kesepian

Aku pernah dalam keadaan membentengi diri setelah dirapuhkan, tapi seseorang datang menawarkan bahagia. Ku beranikan diri untuk jatuh hati sekali lagi.
Hasilnya?

Aku pergi dan kembali membentengi diri.


-------------------------------------------------------------------------------------------


Sore itu kelabu tapi tidak berhujan.  Aku dan dua orang sahabat lamaku sedang berbincang disalah satu cafe tengah kota. Mereka sedang sibuk membicarakan tentang pasangannya masing-masing. Sesekali aku tertawa pelan menyadari atmosfir bahagia keduanya. Ku buang pandanganku ke arah jendela. Langit semakin gelap, sebentar lagi mungkin akan hujan.
Hujan.
Kuusap cangkir kopiku sambil kembali melamunkan sesuatu yang sudah berlalu begitu lama. Tiba-tiba seisi cafe terpenuhi dengan lagu yang begitu familiar ditelingaku. Aku tersenyum kecil.

Aku selalu suka hujan dibulan desember..//

Dulu aku sering mendengarnya bersenandung lagu itu. Entah ia sedang mengingat siapa,aku tidak peduli. Tapi aku selalu suka mendengarnya. Aah. Ku sesap kembali kopiku seraya tersenyum getir. Mengingatnya selalu membuatku bahagia. Aku selalu suka ketika pikiranku  kembali membawaku ke masa-masa singkat itu.  Saat ini bagiku, melamunkan masa lalu bukan lagi tentang air mata sedih, tapi tentang bahagia-bahagia yang telah terlewatkan. 

“ In shaa allah, akadnya setelah lebaran tahun ini” ucap Gina dengan lantang tapi malu—malu.  Ucapannya berhasil menarik kembali perhatianku.

“Alhamdulillah..” Responku seraya mengelus tangannya, ia balas tersenyum dan menangkup telapak tanganku.

“Kalau Cika, katanya tahun depan..” Ujarnya lagi kemudian melempar pandangannya kearah Cika yang tengah duduk berhadapan dengan kami.

“Haha in shaa allah.. Doakan saja” Jawabnya bahagia. Ku balas dengan senyum hangat.

Kami sudah mendewasa. Topik kami bukan lagi tentang mereka yang sedang naksir kakak kelas kemudian patah hati dan bulan selanjutnya pdkt sama orang baru. Aku tertawa pelan mengingatnya. Daridulu, aku selalu terbelakang kalau masalah ini, selalu mengambil posisi sebagai pendengar dan responden paling setia.

“Kamu gimana, Mik?” tanya Gina tanpa melepas senyum dari wajahnya.

“Cerita dong Mik, kamu selalu jadi yang tertutup diantara kita bertiga..” timpal Cika yang kembali membuatku tertawa pelan.

Aku kembali mengusap Cangkir Kopiku yang masih hangat, kemudian mengalihkan perhatianku ke luar kaca jendela. Hujan. Diluar sudah hujan. Aku tidak menjawab pertanyaan mereka. Ku biarkan hening beberapa detik, kemudian mereka kembali berbincang dengan topik baru. Dua orang itu selalu mengerti dengan sikapku. Mereka selalu bertanya tanpa menuntut, selalu menunggu tanpa mencecar.

“Belum ada pikiran sampai sana..” Ucapku yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka. Aku menatap mereka yang tiba-tiba terdiam menunggu kalimat selanjutnya.

“Sekarang lagi dekat sama siapa?” Tanya Gina berusaha memancing.

“Tidak ada.” Jawabku.

“Belum move on ya? C’mon mik.. ini sudah hampir tiga tahun semenjak kalian putus lho..” Balas Cika sedikit kesal.

Aku mengerutkan kening.

 “Sudah kok.. I’ve found someone new

“Serius sudah move on? Trus, gimana? Siapa orangnya? Sekarang dia dimana? Maksudmu tadi yang ngga dekat sama siapa-siapa itu apa?kamu belum pernah cerita, saking lamanya kita bertiga ngga ketemu..” Tanya Cika dengan antusiasmenya yang membuatku bingung seketika.

I’m done with him too..” Jawabku getir.

“Maksudnyaaaa?” Tanya Gina gemas.

“iya, sama dia juga sudah selesai.. sudah ngga contact-an lagi..”

“Aduh Mika.. what actually are you looking for? Atau ngga, cerita dulu deh tentang dia yang berhasil buat kamu move on tapi sekarang sudah ngga contact-an lagi..” Tuntut cika yang terlihat semakin kesal. Tatapan mereka begitu tajam mengarah padaku.

“Sudahlah, ngga perlu dibahas..” Ujarku mencoba mengakhiri topik yang mulai mengintimidasiku.

No..kamu yang mancing kita duluan..  I mean please mik, we’re not 17.. kita sudah cukup dewasa dan bukan remaja lagi untuk main-main..” Jelas Gina mencoba bijaksana. Ok, here we go .

It’s just so hard for me untuk benar-benar jatuh hati sepenuhnya”

“Tapi kamu sudah move on kan? Artinya kamu sudah kembali jatuh hati dong?”

“Belum sepenuhnya.. tapi hampir.. but you know, almost is never enough” Jawabku.

So, tell us.. what’s make you stop before make it enough?” tanya Cika.

I’m leaving..” Kataku pelan. “Satu-satunya hal yang kusesali darinya adalah dia tidak benar-benar menahanku untuk tidak pergi..aku juga menyesal berakhir seperti ini..” Lanjutku semakin pelan sambil mengedikkan bahu seraya kembali menyesap kopiku. Keningku mengkerut, kenapa kopinya jadi semakin pahit? Ujarku dalam hati.

“dan kenapa kamu ingin pergi?” tanya Gina.

Aku tertawa pelan. Pertanyaan yang selalu membuatku tampak bodoh.

“Hm.., kalian tahu, terkadang kita harus melepaskan sesuatu agar keadaan menjadi lebih baik, bahkan kebahagiaan sekalipun..” aku menghela nafas panjang. “Dia menyerah dengan sikapku, dan perlahan-lahan menyuruhku untuk berubah..makanya, kupikir aku kembali jatuh ke orang yang salah..dia terlalu baik..”

“Lalu? Memangnya kamu ini jahat? Memangnya kamu ngga pantas dapat laki-laki yang baik??” Sanggah Cika dengan sedikit emosi.

“Cik.. Sangat sulit untuk mendapatkan seseorang yang betul-betul paham dengan karakterku seperti kalian.. I mean, saya ingin dimengerti tanpa harus dituntut untuk apapun.. I was trying to make him stay.. but he didn’t want.. dia bilang, dia tidak cukup mengerti bagaimana caraku menyayanginya.. ”

“Ya artinya, dia bukan orang yang salah mik, letak kesalahannya ada sama dirimu sendiri.. kurang-kurangilah sikap cuekmu, egoismu.. karena tidak semua orang bisa terima itu..” Ujar Gina dengan biijaksana.

Nasehat lama.

“Aku tahu.. tapi selain kalian, aku mau dia bisa menerimaku, sedikit lagi lebih mengerti..sedikit lagi lebih bersabar.. Dulu kupikir aku sudah tidak perlu untuk mencari siapa-siapa lagi, karena bersamanya, aku merasa sudah tidak membutuhkan apapun.. I’m not a robot, i have feeling..”

---------------------------------------------------------------------------------------------

Aku menelangkupkan wajahku didepan layar laptop.
Kira-kira seperti itu.
Kira-kira semua yang kupikirkan tertera cukup jelas dalam percakapan singkat sore itu.
Iya, Sepi.


Last (Goodbye.)

Hai. Mungkin ini akan menjadi tulisan terakhirku. Atau mungkin tidak. Mungkin aku akan mengambil beberapa jeda yang cukup panjang. Atau ba...