Rabu, 26 Oktober 2016

Love and Calculus



Berapa lama sebetulnya yang dibutuhkan oleh orang-orang untuk menemukan cinta sejatinya? Kapan , dimana dan bagaimana alur ceritanya? Lalu setelah menemukan apa yang dicarinya, bagaimana kelanjutan kisahnya? Bukannya hidup hanyalah sebuah pencarian?

Aku suka tantangan, aku suka dibuat penasaran oleh sesuatu. Seperti memecahkan soal kalkulus. Terkadang suatu masalah juga dapat diselesaikan tanpa melewati kalkulus, sesederhana operasi penjumlahan lainnya namun dalam hal ini, Logika memegang andil penting. Logika. Begitupun dengan Cinta.

Matematika dan Cinta memang tidak ada hubungannya sama sekali, keduanya tidak saling bertemu pada satu titik koordinat yang sama, masing-masing melewati titik lain dan membentuk garis yang berbeda tapi tujuan, proses dan cara menyikapinya sama.

Mencari jawaban yang paling tepat, dan membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang penuh. Bukankah sama? Mereka rumit sekaligus membuatku bingung beberapa saat.

Orang-orang dengan semangat yang menggebu saling berlomba-lomba mencari Cinta sejatinya. Namun meninggalkan matematika dengan atmosfir awan gelap di atas kepalanya. Dan baru-baru ini aku menemukan satu jawaban bahwa dalam mencari cinta, ada banyak komponen lain yang ikut andil didalamnya, segalanya bercampur dalam satu rasa yang tidak akan kutemukan dalam penyelesaian kalkulus.

Tidak munafik, aku pernah jatuh cinta tapi aku bukan mencari melainkan cinta itu datang dengan sendirinya membuatku sesaat mabuk dalam fantasy yang tidak nyata. Memang indah tapi aku seperti tidak menemukan penyelesaian disana. Waktu memang berputar tapi aku tidak menemukan diriku ditahap selanjutnya melainkan hanya berputar pada satu roda yang sama. Hanya berputar. Tidak berpindah hingga aku sadar aku menghabiskan terlalu banyak waktu untuk sebuah pengharapan sia-sia.

Aku menghela nafasku cukup keras bermaksud menghilangkan segala pergulatan perang antara otak dan perasaanku, ku edarkan pandanganku keluar kaca jendela menemukan langit yang sudah gelap. Ku putuskan untuk beranjak karena sadar aku sudah cukup menghabiskan waktuku untuk melamun.

Baru saja aku melangkahkan kaki keluar kelas, Ify datang dengan tampang malasnya menghampiriku.

“Kamu kenapa masih di kampus? Hayo, di kelas bareng sama siapa?” Cecarnya lalu mengintip kedalam kelas yang sudah kosong, matanya beralih padaku lantas menyikut siku-ku pelan. “I guess soal yang tadi dikasih Pak Frans sudah kamu jawabkan?” Tebaknya asal.

“Sok tau.” Timpalku datar.

“Loh emangnya apa lagi yang kamu lakuin dikelas sampe malam begini kalau bukan nyelesaiin soal-soal kalkulus?? Come on via, life isn’t all about calculus.. aku paham sih kamu lagi tergila-gila sama algebra calculus atau whatever lah yang bikin kepalaku pusing...”

Stop deh Fy, saya tadi ngga ngerjain apa-apa kok.. tadinya sih niatnya emang gitu.. saya baru dapet soal dari internet.. soalnya cukup menantang..tapi pas coba-coba ngerjain, suddenly buyar ditengah jalan.. fikiran sama hati lagi ngga syncron nih..”
Curhatku sambil terus berjalan beberapa langkah lebih cepat didepan Ify. Suasana kampus malam ini memang lagi ramai karena besok ada pameran pendidikan sekaligus memperingati hari kemerdekaan, jadi banyak mahasiswa yang sedang berlomba-lomba menghias stand jurusan mereka.

“Melamun tentang sia-sia lagi??” tanyannya yang berhasil menyamai langkahku lantas dengan santai merangkulkan lengannya diatas pundakku.

Maybe.. Hmm, janji deh itu tadi buat yang terakhir kalinya aku ngelamun sampe berjam-jam Cuma karena masalah itu..” Jawabku terkekeh geli. Ify menghentikan langkahnya membuatku otomatis ikut terhenti.

"Via, mau sampai kapan sih kayak begini? Kamu ngga sadar ya, kalau yang ngebuat kamu jadi kayak gini tuh soalnya kamu lagi kesepian aja” Titahnya. Aku mulai paham dengan kondisi seperti ini, ini bukan pertama kalinya dia mengatakan hal itu.

“Kesepian? Ngga-lah fy,,”

than what? Kenapa sih kamu ngga mau coba untuk dekat sama orang lain?”

“Saya udah punya banyak temen Fy, Saya juga ngga kuper kok” kelakarku mecoba mengalihkan pembicaraannya.

“Kamu ngerti maksud aku, Via... Jangan ngehindar deh..” ucapnya kesal.
Ku lepas tangannya yang sedari tadi merangkul dipundakku. “saya ngga punya waktu buat mikirin itu, Fy..”

“Hidup kamu nge-bosenin tau ngga?” Makinya semakin kesal. Aku kembali melajutkan langkahku sambil terus menertawakan aksi protesnya.

“Kamu bukannya ngga punya waktu, vi.. kamu Cuma takut aja, iyakan?”


IYA.


“engga..” jawabku singkat.
“Bohong!”
Aku kembali menghentikan langkahku begitu sadar kalau Ify benar-benar marah kali ini. “Buat apa sih Fy, saya ngabisin waktu buat sesuatu yang ngga jelas? Saya sudah pernah kok ngerasain itu.. kamu bahkan lebih tau gimana perasaan saya waktu itu.. kamu bilang rasanya bakalan beda-kan daripada ngerjain kalkulus?Iya beda.. rasanya lebih pahit daripada kopi.. ngga ada habisnya.. saya Cuma berharap tapi nyatanya orang itu ngga sadarkan kalau saya lagi berharap? Kalau udah kayak gitu, saya bisa apa selain berhenti??” Jelasku sedikit terpancing emosi. Topik ini memang selalu jadi topik sensitif antara aku dan Ify. Aku paham betul dengan maksudnya, tapi aku selalu mencoba menghindar.

“Kamu berharap tanpa ngelakuin apapun kan? Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang, kalau jawaban dan penyelesaian itu ngga bakalan langsung muncul gitu aja.. kamu pikir, kita bisa dapet jawaban dari soal kalkulus itu cuman dari berharap aja, ya? Jangan bego vi, kita pasti berjuang supaya dapet jawaban yang bener. Lah kamu? Emangnya dulu kamu nyari solusi? Engga. Kamu cuman stuck dan berharap. Kamu cuman ngerasa kalau kamu lagi mecahin masalahnya tapi nyatanya, engga.. kamu terlalu asik berharap.. kamu Cuma liatin soalnya tanpa pernah sedikitpun nyari cara supaya bikin soal itu selesai.”


Dan tiba-tiba aku merasa langkahku seolah tertahan, membuatku berhenti sejenak kemudian kembali berjalan.


Alvin .


Namanya kembali melintas, suaranya kembali terasa memenuhi seluruh fikiranku, senyumnya muncul membuatku memejamkan mata merasakan sakit yang tiba-tiba membuat dadaku sangat sesak. Benar. Aku tidak pernah berusaha untuk mencoba selangkah lebih dekat dengannya, ku fikir hanya dengan menatapnya dari jauh, mengaguminya dalam sembunyi, itu berarti aku sudah memilikinya. Namun tidak, Dia malah semakin jauh.

Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan membuat jarak itu semakin menganga lebar, kembali menutup mata dan pintu hati untuk segala hal yang akan mengingatkanku tentang pengharapan sia-sia itu. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Last (Goodbye.)

Hai. Mungkin ini akan menjadi tulisan terakhirku. Atau mungkin tidak. Mungkin aku akan mengambil beberapa jeda yang cukup panjang. Atau ba...