Berapa
lama sebetulnya yang dibutuhkan oleh orang-orang untuk menemukan cinta
sejatinya? Kapan , dimana dan bagaimana alur ceritanya? Lalu setelah menemukan
apa yang dicarinya, bagaimana kelanjutan kisahnya? Bukannya hidup hanyalah
sebuah pencarian?
Aku
suka tantangan, aku suka dibuat penasaran oleh sesuatu. Seperti memecahkan soal
kalkulus. Terkadang suatu masalah juga dapat diselesaikan tanpa melewati
kalkulus, sesederhana operasi penjumlahan lainnya namun dalam hal ini, Logika
memegang andil penting. Logika. Begitupun dengan Cinta.
Matematika
dan Cinta memang tidak ada hubungannya sama sekali, keduanya tidak saling
bertemu pada satu titik koordinat yang sama, masing-masing melewati titik lain
dan membentuk garis yang berbeda tapi tujuan, proses dan cara menyikapinya sama.
Mencari
jawaban yang paling tepat, dan membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang penuh.
Bukankah sama? Mereka rumit sekaligus membuatku bingung beberapa saat.
Orang-orang
dengan semangat yang menggebu saling berlomba-lomba mencari Cinta sejatinya.
Namun meninggalkan matematika dengan atmosfir awan gelap di atas kepalanya. Dan
baru-baru ini aku menemukan satu jawaban bahwa dalam mencari cinta, ada banyak
komponen lain yang ikut andil didalamnya, segalanya bercampur dalam satu rasa
yang tidak akan kutemukan dalam penyelesaian kalkulus.
Tidak
munafik, aku pernah jatuh cinta tapi aku bukan mencari melainkan cinta itu
datang dengan sendirinya membuatku sesaat mabuk dalam fantasy yang tidak nyata.
Memang indah tapi aku seperti tidak menemukan penyelesaian disana. Waktu memang
berputar tapi aku tidak menemukan diriku ditahap selanjutnya melainkan hanya
berputar pada satu roda yang sama. Hanya berputar. Tidak berpindah hingga aku
sadar aku menghabiskan terlalu banyak waktu untuk sebuah pengharapan sia-sia.
Aku
menghela nafasku cukup keras bermaksud menghilangkan segala pergulatan perang
antara otak dan perasaanku, ku edarkan pandanganku keluar kaca jendela
menemukan langit yang sudah gelap. Ku putuskan untuk beranjak karena sadar aku sudah
cukup menghabiskan waktuku untuk melamun.
Baru
saja aku melangkahkan kaki keluar kelas, Ify datang dengan tampang malasnya
menghampiriku.
“Kamu
kenapa masih di kampus? Hayo, di kelas bareng sama siapa?” Cecarnya lalu
mengintip kedalam kelas yang sudah kosong, matanya beralih padaku lantas
menyikut siku-ku pelan. “I guess soal yang tadi dikasih Pak Frans
sudah kamu jawabkan?” Tebaknya asal.
“Sok
tau.” Timpalku datar.
“Loh
emangnya apa lagi yang kamu lakuin dikelas sampe malam begini kalau bukan
nyelesaiin soal-soal kalkulus?? Come on via, life
isn’t all about calculus.. aku paham sih kamu lagi tergila-gila sama
algebra calculus atau whatever lah yang bikin kepalaku
pusing...”
“Stop deh
Fy, saya tadi ngga ngerjain apa-apa kok.. tadinya sih niatnya emang gitu.. saya
baru dapet soal dari internet.. soalnya cukup menantang..tapi pas coba-coba
ngerjain, suddenly buyar ditengah jalan.. fikiran sama hati
lagi ngga syncron nih..”
Curhatku
sambil terus berjalan beberapa langkah lebih cepat didepan Ify. Suasana kampus
malam ini memang lagi ramai karena besok ada pameran pendidikan sekaligus
memperingati hari kemerdekaan, jadi banyak mahasiswa yang sedang berlomba-lomba
menghias stand jurusan mereka.
“Melamun
tentang sia-sia lagi??” tanyannya yang berhasil menyamai langkahku lantas
dengan santai merangkulkan lengannya diatas pundakku.
“Maybe..
Hmm, janji deh itu tadi buat yang terakhir kalinya aku ngelamun sampe
berjam-jam Cuma karena masalah itu..” Jawabku terkekeh geli. Ify menghentikan
langkahnya membuatku otomatis ikut terhenti.
"Via,
mau sampai kapan sih kayak begini? Kamu ngga sadar ya, kalau yang ngebuat kamu
jadi kayak gini tuh soalnya kamu lagi kesepian aja” Titahnya. Aku mulai paham
dengan kondisi seperti ini, ini bukan pertama kalinya dia mengatakan hal itu.
“Kesepian?
Ngga-lah fy,,”
“than
what? Kenapa sih kamu ngga mau coba untuk dekat sama orang lain?”
“Saya
udah punya banyak temen Fy, Saya juga ngga kuper kok” kelakarku mecoba
mengalihkan pembicaraannya.
“Kamu
ngerti maksud aku, Via... Jangan ngehindar deh..” ucapnya kesal.
Ku
lepas tangannya yang sedari tadi merangkul dipundakku. “saya ngga punya waktu
buat mikirin itu, Fy..”
“Hidup
kamu nge-bosenin tau ngga?” Makinya semakin kesal. Aku kembali melajutkan
langkahku sambil terus menertawakan aksi protesnya.
“Kamu
bukannya ngga punya waktu, vi.. kamu Cuma takut aja, iyakan?”
IYA.
“engga..”
jawabku singkat.
“Bohong!”
Aku
kembali menghentikan langkahku begitu sadar kalau Ify benar-benar marah kali ini.
“Buat apa sih Fy, saya ngabisin waktu buat sesuatu yang ngga jelas? Saya sudah
pernah kok ngerasain itu.. kamu bahkan lebih tau gimana perasaan saya waktu
itu.. kamu bilang rasanya bakalan beda-kan daripada ngerjain kalkulus?Iya
beda.. rasanya lebih pahit daripada kopi.. ngga ada habisnya.. saya Cuma
berharap tapi nyatanya orang itu ngga sadarkan kalau saya lagi berharap? Kalau
udah kayak gitu, saya bisa apa selain berhenti??” Jelasku sedikit terpancing
emosi. Topik ini memang selalu jadi topik sensitif antara aku dan Ify. Aku
paham betul dengan maksudnya, tapi aku selalu mencoba menghindar.
“Kamu
berharap tanpa ngelakuin apapun kan? Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang,
kalau jawaban dan penyelesaian itu ngga bakalan langsung muncul gitu aja.. kamu
pikir, kita bisa dapet jawaban dari soal kalkulus itu cuman dari berharap aja,
ya? Jangan bego vi, kita pasti berjuang supaya dapet jawaban yang bener. Lah
kamu? Emangnya dulu kamu nyari solusi? Engga. Kamu cuman stuck dan
berharap. Kamu cuman ngerasa kalau kamu lagi mecahin masalahnya tapi nyatanya,
engga.. kamu terlalu asik berharap.. kamu Cuma liatin soalnya tanpa pernah
sedikitpun nyari cara supaya bikin soal itu selesai.”
Dan
tiba-tiba aku merasa langkahku seolah tertahan, membuatku berhenti sejenak
kemudian kembali berjalan.
Alvin
.
Namanya
kembali melintas, suaranya kembali terasa memenuhi seluruh fikiranku, senyumnya
muncul membuatku memejamkan mata merasakan sakit yang tiba-tiba membuat dadaku
sangat sesak. Benar. Aku tidak pernah berusaha untuk mencoba selangkah lebih
dekat dengannya, ku fikir hanya dengan menatapnya dari jauh, mengaguminya dalam
sembunyi, itu berarti aku sudah memilikinya. Namun tidak, Dia malah semakin
jauh.
Hingga
pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan membuat jarak itu semakin
menganga lebar, kembali menutup mata dan pintu hati untuk segala hal yang akan
mengingatkanku tentang pengharapan sia-sia itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar