Hai. Mungkin ini akan menjadi tulisan terakhirku.
Atau mungkin tidak. Mungkin aku akan mengambil beberapa jeda yang cukup
panjang. Atau bahkan selamanya.
Seluruh badanku gemetar, aku merasa seluruh semesta
tengah menertawaiku, bak badut jelek yang sedang menangis dalam sudut ruang
yang cukup gelap. Tempat ini terasa sama,
aku pernah berada ditempat ini sebelumnya. Lubang.
Sudah kubilang, menjadi setia bukan berarti
segalanya. Menjadi setia, bukan berarti dia-pun akan sama.
“Kamu bilang, dia beda?”
“Iya..” Jawabku.
“Semua laki-laki sama, termasuk saya! Sudah kubilang
jangan pernah percaya.. kamu terlalu naif, menuggu seseorang untuk datang
kembali. .Kamu terlalu polos, menjaga dirimu untuk seseorang yang kamu pikir
dia akan pulang..”
“Aku yang menyakitinya duluan..”
“Tidak kalau dia tahu ceritamu yang sebenarnya,
tidak jika kamu lebih pintar untuk mengungkapkan semuanya..”
“Sudahlah..”
Aku melipat kedua tanganku diatas meja kemudian
menelungkupkan kepalaku diatasnya. Dadaku sesak. Sesak sekali sampai aku tidak
bisa menahan air mataku untuk tidak keluar. Aku tidak menyalahkan siapapun atas
hal ini. Satu-satunya kesalahanku adalah harapanku kutaruh pada tempat yang
tidak seharusnya.
“Mir..Plis sadarlah kalau bukan kamu yang dipilihnya..!!! Sekali lagi kamu menangis karena hal yang sama, i’ll punch that man”
“... I’ll
punch you first!!!!” Aku mengangkat kepalaku, menatapnya sungguh-sungguh.
“Mir!” Ujarnya sedikit emosi.
“Yat.. At
least i was happy with him..and seriously, it’s good to know that he does what
makes him happy”
“Dia sehebat apa sih?? Banyak yang suka sama kamu..
kamu tinggal pilih.. ”
“I don’t want
to feel it again.. Dia membuatku semakin yakin bahwa semua laki-laki itu
sama.. being faithful doesn’t keep a man..”
Iya benar. Aku masih belum cukup dewasa untuk tidak
merengek karena patah hati. Cinta? That’s Bullshit. Cinta itu ada masanya. Dan
ketika masanya telah habis, kamu juga akan habis. Seperti halnya dengan kopi,
ampasnya akan selalu pahit ‘kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar