Minggu, 05 Agustus 2018

Last (Goodbye.)


Hai. Mungkin ini akan menjadi tulisan terakhirku. Atau mungkin tidak. Mungkin aku akan mengambil beberapa jeda yang cukup panjang. Atau bahkan selamanya.
Seluruh badanku gemetar, aku merasa seluruh semesta tengah menertawaiku, bak badut jelek yang sedang menangis dalam sudut ruang yang cukup gelap. Tempat ini terasa sama,  aku pernah berada ditempat ini sebelumnya. Lubang.
Sudah kubilang, menjadi setia bukan berarti segalanya. Menjadi setia, bukan berarti dia-pun akan sama.

“Kamu bilang, dia beda?”

“Iya..” Jawabku.

“Semua laki-laki sama, termasuk saya! Sudah kubilang jangan pernah percaya.. kamu terlalu naif, menuggu seseorang untuk datang kembali. .Kamu terlalu polos, menjaga dirimu untuk seseorang yang kamu pikir dia akan pulang..”

“Aku yang menyakitinya duluan..”

“Tidak kalau dia tahu ceritamu yang sebenarnya, tidak jika kamu lebih pintar untuk mengungkapkan semuanya..”

“Sudahlah..”

Aku melipat kedua tanganku diatas meja kemudian menelungkupkan kepalaku diatasnya. Dadaku sesak. Sesak sekali sampai aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak keluar. Aku tidak menyalahkan siapapun atas hal ini. Satu-satunya kesalahanku adalah harapanku kutaruh pada tempat yang tidak seharusnya.

“Mir..Plis sadarlah kalau bukan kamu yang dipilihnya..!!! Sekali lagi kamu menangis karena hal yang sama, i’ll punch that man

... I’ll punch you first!!!!” Aku mengangkat kepalaku, menatapnya sungguh-sungguh.

“Mir!” Ujarnya sedikit emosi.

“Yat.. At least i was happy with him..and seriously, it’s good to know that he does what makes him happy

“Dia sehebat apa sih?? Banyak yang suka sama kamu.. kamu tinggal pilih.. ”

I don’t want to feel it again.. Dia membuatku semakin yakin bahwa semua laki-laki itu sama.. being faithful doesn’t keep a man..”

Iya benar. Aku masih belum cukup dewasa untuk tidak merengek karena patah hati.  Cinta? That’s Bullshit. Cinta itu ada masanya. Dan ketika masanya telah habis, kamu juga akan habis. Seperti halnya dengan kopi, ampasnya akan selalu pahit ‘kan?

Rabu, 06 Juni 2018

I Have Feeling (CERPEN)





Jemariku kaku diatas papan ketik, lama aku terpaku pada layar putih kosong. Begitu banyak yang ingin aku tuangkan dalam tulisan bersajak. Aku ingin perasaanku mengalir dalam tulisan, tanpa paksaan,tanpa tambahan, tanpa bantahan.
Sebaik-baiknya bercerita adalah menuangkan isi hatimu kedalam barisan-barisan kalimat untuk  kau baca setelahnya, karena sebaik-baiknya memahami adalah ketika berhasil memahami dirimu sendiri.
Biar kusimpulkan dalam satu kata, jenis perasaan apa yang menemaniku saat ini agar kita berpacu pada satu topik saja.

Sepi.

Aku kembali ke diriku yang dulu. Kembali membentengi diri. Ku habiskan waktu dengan segala kesibukan-kesibukan yang sengaja aku ciptakan.

Aku tidak butuh didampingi.
Aku tidak butuh penyemengat.
Aku tidak butuh.
Tapi,
Aku rindu.

Pada dasarnya apa yang ku bentengi adalah sesuatu yang rapuh. Terlalu rapuh untuk dirapuhkan lagi. Tapi lambat laun,

ia kesepian

Aku pernah dalam keadaan membentengi diri setelah dirapuhkan, tapi seseorang datang menawarkan bahagia. Ku beranikan diri untuk jatuh hati sekali lagi.
Hasilnya?

Aku pergi dan kembali membentengi diri.


-------------------------------------------------------------------------------------------


Sore itu kelabu tapi tidak berhujan.  Aku dan dua orang sahabat lamaku sedang berbincang disalah satu cafe tengah kota. Mereka sedang sibuk membicarakan tentang pasangannya masing-masing. Sesekali aku tertawa pelan menyadari atmosfir bahagia keduanya. Ku buang pandanganku ke arah jendela. Langit semakin gelap, sebentar lagi mungkin akan hujan.
Hujan.
Kuusap cangkir kopiku sambil kembali melamunkan sesuatu yang sudah berlalu begitu lama. Tiba-tiba seisi cafe terpenuhi dengan lagu yang begitu familiar ditelingaku. Aku tersenyum kecil.

Aku selalu suka hujan dibulan desember..//

Dulu aku sering mendengarnya bersenandung lagu itu. Entah ia sedang mengingat siapa,aku tidak peduli. Tapi aku selalu suka mendengarnya. Aah. Ku sesap kembali kopiku seraya tersenyum getir. Mengingatnya selalu membuatku bahagia. Aku selalu suka ketika pikiranku  kembali membawaku ke masa-masa singkat itu.  Saat ini bagiku, melamunkan masa lalu bukan lagi tentang air mata sedih, tapi tentang bahagia-bahagia yang telah terlewatkan. 

“ In shaa allah, akadnya setelah lebaran tahun ini” ucap Gina dengan lantang tapi malu—malu.  Ucapannya berhasil menarik kembali perhatianku.

“Alhamdulillah..” Responku seraya mengelus tangannya, ia balas tersenyum dan menangkup telapak tanganku.

“Kalau Cika, katanya tahun depan..” Ujarnya lagi kemudian melempar pandangannya kearah Cika yang tengah duduk berhadapan dengan kami.

“Haha in shaa allah.. Doakan saja” Jawabnya bahagia. Ku balas dengan senyum hangat.

Kami sudah mendewasa. Topik kami bukan lagi tentang mereka yang sedang naksir kakak kelas kemudian patah hati dan bulan selanjutnya pdkt sama orang baru. Aku tertawa pelan mengingatnya. Daridulu, aku selalu terbelakang kalau masalah ini, selalu mengambil posisi sebagai pendengar dan responden paling setia.

“Kamu gimana, Mik?” tanya Gina tanpa melepas senyum dari wajahnya.

“Cerita dong Mik, kamu selalu jadi yang tertutup diantara kita bertiga..” timpal Cika yang kembali membuatku tertawa pelan.

Aku kembali mengusap Cangkir Kopiku yang masih hangat, kemudian mengalihkan perhatianku ke luar kaca jendela. Hujan. Diluar sudah hujan. Aku tidak menjawab pertanyaan mereka. Ku biarkan hening beberapa detik, kemudian mereka kembali berbincang dengan topik baru. Dua orang itu selalu mengerti dengan sikapku. Mereka selalu bertanya tanpa menuntut, selalu menunggu tanpa mencecar.

“Belum ada pikiran sampai sana..” Ucapku yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka. Aku menatap mereka yang tiba-tiba terdiam menunggu kalimat selanjutnya.

“Sekarang lagi dekat sama siapa?” Tanya Gina berusaha memancing.

“Tidak ada.” Jawabku.

“Belum move on ya? C’mon mik.. ini sudah hampir tiga tahun semenjak kalian putus lho..” Balas Cika sedikit kesal.

Aku mengerutkan kening.

 “Sudah kok.. I’ve found someone new

“Serius sudah move on? Trus, gimana? Siapa orangnya? Sekarang dia dimana? Maksudmu tadi yang ngga dekat sama siapa-siapa itu apa?kamu belum pernah cerita, saking lamanya kita bertiga ngga ketemu..” Tanya Cika dengan antusiasmenya yang membuatku bingung seketika.

I’m done with him too..” Jawabku getir.

“Maksudnyaaaa?” Tanya Gina gemas.

“iya, sama dia juga sudah selesai.. sudah ngga contact-an lagi..”

“Aduh Mika.. what actually are you looking for? Atau ngga, cerita dulu deh tentang dia yang berhasil buat kamu move on tapi sekarang sudah ngga contact-an lagi..” Tuntut cika yang terlihat semakin kesal. Tatapan mereka begitu tajam mengarah padaku.

“Sudahlah, ngga perlu dibahas..” Ujarku mencoba mengakhiri topik yang mulai mengintimidasiku.

No..kamu yang mancing kita duluan..  I mean please mik, we’re not 17.. kita sudah cukup dewasa dan bukan remaja lagi untuk main-main..” Jelas Gina mencoba bijaksana. Ok, here we go .

It’s just so hard for me untuk benar-benar jatuh hati sepenuhnya”

“Tapi kamu sudah move on kan? Artinya kamu sudah kembali jatuh hati dong?”

“Belum sepenuhnya.. tapi hampir.. but you know, almost is never enough” Jawabku.

So, tell us.. what’s make you stop before make it enough?” tanya Cika.

I’m leaving..” Kataku pelan. “Satu-satunya hal yang kusesali darinya adalah dia tidak benar-benar menahanku untuk tidak pergi..aku juga menyesal berakhir seperti ini..” Lanjutku semakin pelan sambil mengedikkan bahu seraya kembali menyesap kopiku. Keningku mengkerut, kenapa kopinya jadi semakin pahit? Ujarku dalam hati.

“dan kenapa kamu ingin pergi?” tanya Gina.

Aku tertawa pelan. Pertanyaan yang selalu membuatku tampak bodoh.

“Hm.., kalian tahu, terkadang kita harus melepaskan sesuatu agar keadaan menjadi lebih baik, bahkan kebahagiaan sekalipun..” aku menghela nafas panjang. “Dia menyerah dengan sikapku, dan perlahan-lahan menyuruhku untuk berubah..makanya, kupikir aku kembali jatuh ke orang yang salah..dia terlalu baik..”

“Lalu? Memangnya kamu ini jahat? Memangnya kamu ngga pantas dapat laki-laki yang baik??” Sanggah Cika dengan sedikit emosi.

“Cik.. Sangat sulit untuk mendapatkan seseorang yang betul-betul paham dengan karakterku seperti kalian.. I mean, saya ingin dimengerti tanpa harus dituntut untuk apapun.. I was trying to make him stay.. but he didn’t want.. dia bilang, dia tidak cukup mengerti bagaimana caraku menyayanginya.. ”

“Ya artinya, dia bukan orang yang salah mik, letak kesalahannya ada sama dirimu sendiri.. kurang-kurangilah sikap cuekmu, egoismu.. karena tidak semua orang bisa terima itu..” Ujar Gina dengan biijaksana.

Nasehat lama.

“Aku tahu.. tapi selain kalian, aku mau dia bisa menerimaku, sedikit lagi lebih mengerti..sedikit lagi lebih bersabar.. Dulu kupikir aku sudah tidak perlu untuk mencari siapa-siapa lagi, karena bersamanya, aku merasa sudah tidak membutuhkan apapun.. I’m not a robot, i have feeling..”

---------------------------------------------------------------------------------------------

Aku menelangkupkan wajahku didepan layar laptop.
Kira-kira seperti itu.
Kira-kira semua yang kupikirkan tertera cukup jelas dalam percakapan singkat sore itu.
Iya, Sepi.


Selasa, 17 April 2018

Hello, Good Bye..



Semuanya fana. Bermain dalam fantasi yang tidak nyata.
Kamu butuh hiburan?
Salah Besar! Aku bukan taman bermain yang akan menjanjikan seribu wahana permainan yang menyenangkan.

Mari sama-sama mendewasa. Aku tidak ingin kamu tinggal barang sebentar saja. Aku tidak ingin kamu pergi menengok masa lalumu, meninggalkan aku dimasa sekarang walau sebentar saja. Sudah kubilang, kamu tidak perlu menghapus kenangan, kamu hanya tidak perlu membawanya pulang.

Akulah si pembohong yang selalu berkata tidak mempercayaimu namun faktanya aku selalu percaya. Semua omongan manis yang akalku berkata itu omong kosong tapi hatiku tetap mendukung untuk tetap terayu dan termakan.

Kamu datang sebagai penawar meski lukamu sendiri belum sembuh.
Kamu datang dengan cerita yang amat sangat mendalam. Aku sedih mendengar kisahmu. Aku ingin menjadi penawar yang baik tapi kau tak ingin sembuh.

Kau bilang aku bukan pelarian karena kau memang tak mampu untuk berlari. Ku pikir semuanya akan baik-baik saja selama aku ada disampingmu. Tapi tidak. Kamu tidak menyadari keberadaanku sebagai sesuatu yang berarti.

Akulah si egois yang tidak ingin kamu merasa sedih karena wanita lain, aku berusaha untuk membuatmu bahagia namun nyatanya kamu tak begitu bahagia. Kupikir kamu sudah larut bersamaku, kupikir aku sudah menggandengmu menjelajahi dunia. Nyatanya, kita masih duduk bersama, melamunkan kebahagiaan. Kita belum bergerak sama sekali. Kamu belum bahagia sama sekali.

Jadi tibalah aku dalam titik kesimpulan, bahwasanya aku lebih baik mundur dan tidak mencoba untuk menjadi penawarmu. Semoga suatu saat kamu bisa bahagia seperti dulu kala. Jaga pola makanmu, kurangi sedihmu. Mungkin aku tidak seberuntung dia yang pernah melihat senyum bahagia yang tulus dari wajahmu.

Selasa, 10 April 2018

Someone New

----------------------------------------------------------------------
It’s 05.50 o’clock.  I am sitting in the corner of my room enjoying the sunset. I’m taking a deep breath, i don’t know missing someone will driving me this crazy. Have you ever felt like you don’t want to leave but you have to.  You got the happiness but you have to throw it. You found a guy that you loved, enjoyed the time with, respect and make you feel  so comfortable but all you can do is.. leaving.
I’m foolish. I know. I’m selfish. I know.i want to leave but i don’t want to being forgotten by him.


<<Flashback on>>


“Why don’t you just stay beside me?” i asked.

“If you want me to stay then what will i get? Will you changed?” he answered. He is fed up with me.

“I won’t.” still with my ego.

He took a deep breath, trying to control his emotion. “Please, i don’t ask you many things.. i just want you to give me a lil attention.. i didn’t ask you to meet everyday, i didn’t call you on phone everynight, i let you to take your time as much as you want.. but guess what i get?? You forgot me, it seems like i don’t exist in your life anymore.. Am i truly your man?”

Now i’m fed up with my self too. I hurt this man so damn much. “You don’t understand me enough.” I said.

“You can count how many days we do not meet each other.. have i ever ask? No! Because i understand that you are busy.. you don’t understand that you are being understanding enough by me. This relation is not only about you.. but also me..” he continue sadly.

I took almost a half hour before i answered. I’m trying to hold my tears. This guy is too good for me.
“i don’t know what to say. All your words make me feeling so guilty. Sorry. I won’t ask you to stay anymore. You’d deserve better than me. Thank you for understand me all this time ..thank you for your time, your kindness, your hugs  and your love. You’d deserve better than me..bye”

“i don’t expect you to say good bye but if it your choice, okay.. i’ll go.. i won’t disturb you anymore.. i hope you’ll find a man who will understand you enough without ask you to change.. bye”

I switched my phone and jumped into my bed. Letting my tears wetting my cheeks and pillow. I don’t deserve him. But may i ask one thing to God? Please don’t let him falling in love with someone new. Yea . i’m a hypocrate.

Rabu, 26 Oktober 2016

Love and Calculus



Berapa lama sebetulnya yang dibutuhkan oleh orang-orang untuk menemukan cinta sejatinya? Kapan , dimana dan bagaimana alur ceritanya? Lalu setelah menemukan apa yang dicarinya, bagaimana kelanjutan kisahnya? Bukannya hidup hanyalah sebuah pencarian?

Aku suka tantangan, aku suka dibuat penasaran oleh sesuatu. Seperti memecahkan soal kalkulus. Terkadang suatu masalah juga dapat diselesaikan tanpa melewati kalkulus, sesederhana operasi penjumlahan lainnya namun dalam hal ini, Logika memegang andil penting. Logika. Begitupun dengan Cinta.

Matematika dan Cinta memang tidak ada hubungannya sama sekali, keduanya tidak saling bertemu pada satu titik koordinat yang sama, masing-masing melewati titik lain dan membentuk garis yang berbeda tapi tujuan, proses dan cara menyikapinya sama.

Mencari jawaban yang paling tepat, dan membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang penuh. Bukankah sama? Mereka rumit sekaligus membuatku bingung beberapa saat.

Orang-orang dengan semangat yang menggebu saling berlomba-lomba mencari Cinta sejatinya. Namun meninggalkan matematika dengan atmosfir awan gelap di atas kepalanya. Dan baru-baru ini aku menemukan satu jawaban bahwa dalam mencari cinta, ada banyak komponen lain yang ikut andil didalamnya, segalanya bercampur dalam satu rasa yang tidak akan kutemukan dalam penyelesaian kalkulus.

Tidak munafik, aku pernah jatuh cinta tapi aku bukan mencari melainkan cinta itu datang dengan sendirinya membuatku sesaat mabuk dalam fantasy yang tidak nyata. Memang indah tapi aku seperti tidak menemukan penyelesaian disana. Waktu memang berputar tapi aku tidak menemukan diriku ditahap selanjutnya melainkan hanya berputar pada satu roda yang sama. Hanya berputar. Tidak berpindah hingga aku sadar aku menghabiskan terlalu banyak waktu untuk sebuah pengharapan sia-sia.

Aku menghela nafasku cukup keras bermaksud menghilangkan segala pergulatan perang antara otak dan perasaanku, ku edarkan pandanganku keluar kaca jendela menemukan langit yang sudah gelap. Ku putuskan untuk beranjak karena sadar aku sudah cukup menghabiskan waktuku untuk melamun.

Baru saja aku melangkahkan kaki keluar kelas, Ify datang dengan tampang malasnya menghampiriku.

“Kamu kenapa masih di kampus? Hayo, di kelas bareng sama siapa?” Cecarnya lalu mengintip kedalam kelas yang sudah kosong, matanya beralih padaku lantas menyikut siku-ku pelan. “I guess soal yang tadi dikasih Pak Frans sudah kamu jawabkan?” Tebaknya asal.

“Sok tau.” Timpalku datar.

“Loh emangnya apa lagi yang kamu lakuin dikelas sampe malam begini kalau bukan nyelesaiin soal-soal kalkulus?? Come on via, life isn’t all about calculus.. aku paham sih kamu lagi tergila-gila sama algebra calculus atau whatever lah yang bikin kepalaku pusing...”

Stop deh Fy, saya tadi ngga ngerjain apa-apa kok.. tadinya sih niatnya emang gitu.. saya baru dapet soal dari internet.. soalnya cukup menantang..tapi pas coba-coba ngerjain, suddenly buyar ditengah jalan.. fikiran sama hati lagi ngga syncron nih..”
Curhatku sambil terus berjalan beberapa langkah lebih cepat didepan Ify. Suasana kampus malam ini memang lagi ramai karena besok ada pameran pendidikan sekaligus memperingati hari kemerdekaan, jadi banyak mahasiswa yang sedang berlomba-lomba menghias stand jurusan mereka.

“Melamun tentang sia-sia lagi??” tanyannya yang berhasil menyamai langkahku lantas dengan santai merangkulkan lengannya diatas pundakku.

Maybe.. Hmm, janji deh itu tadi buat yang terakhir kalinya aku ngelamun sampe berjam-jam Cuma karena masalah itu..” Jawabku terkekeh geli. Ify menghentikan langkahnya membuatku otomatis ikut terhenti.

"Via, mau sampai kapan sih kayak begini? Kamu ngga sadar ya, kalau yang ngebuat kamu jadi kayak gini tuh soalnya kamu lagi kesepian aja” Titahnya. Aku mulai paham dengan kondisi seperti ini, ini bukan pertama kalinya dia mengatakan hal itu.

“Kesepian? Ngga-lah fy,,”

than what? Kenapa sih kamu ngga mau coba untuk dekat sama orang lain?”

“Saya udah punya banyak temen Fy, Saya juga ngga kuper kok” kelakarku mecoba mengalihkan pembicaraannya.

“Kamu ngerti maksud aku, Via... Jangan ngehindar deh..” ucapnya kesal.
Ku lepas tangannya yang sedari tadi merangkul dipundakku. “saya ngga punya waktu buat mikirin itu, Fy..”

“Hidup kamu nge-bosenin tau ngga?” Makinya semakin kesal. Aku kembali melajutkan langkahku sambil terus menertawakan aksi protesnya.

“Kamu bukannya ngga punya waktu, vi.. kamu Cuma takut aja, iyakan?”


IYA.


“engga..” jawabku singkat.
“Bohong!”
Aku kembali menghentikan langkahku begitu sadar kalau Ify benar-benar marah kali ini. “Buat apa sih Fy, saya ngabisin waktu buat sesuatu yang ngga jelas? Saya sudah pernah kok ngerasain itu.. kamu bahkan lebih tau gimana perasaan saya waktu itu.. kamu bilang rasanya bakalan beda-kan daripada ngerjain kalkulus?Iya beda.. rasanya lebih pahit daripada kopi.. ngga ada habisnya.. saya Cuma berharap tapi nyatanya orang itu ngga sadarkan kalau saya lagi berharap? Kalau udah kayak gitu, saya bisa apa selain berhenti??” Jelasku sedikit terpancing emosi. Topik ini memang selalu jadi topik sensitif antara aku dan Ify. Aku paham betul dengan maksudnya, tapi aku selalu mencoba menghindar.

“Kamu berharap tanpa ngelakuin apapun kan? Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang, kalau jawaban dan penyelesaian itu ngga bakalan langsung muncul gitu aja.. kamu pikir, kita bisa dapet jawaban dari soal kalkulus itu cuman dari berharap aja, ya? Jangan bego vi, kita pasti berjuang supaya dapet jawaban yang bener. Lah kamu? Emangnya dulu kamu nyari solusi? Engga. Kamu cuman stuck dan berharap. Kamu cuman ngerasa kalau kamu lagi mecahin masalahnya tapi nyatanya, engga.. kamu terlalu asik berharap.. kamu Cuma liatin soalnya tanpa pernah sedikitpun nyari cara supaya bikin soal itu selesai.”


Dan tiba-tiba aku merasa langkahku seolah tertahan, membuatku berhenti sejenak kemudian kembali berjalan.


Alvin .


Namanya kembali melintas, suaranya kembali terasa memenuhi seluruh fikiranku, senyumnya muncul membuatku memejamkan mata merasakan sakit yang tiba-tiba membuat dadaku sangat sesak. Benar. Aku tidak pernah berusaha untuk mencoba selangkah lebih dekat dengannya, ku fikir hanya dengan menatapnya dari jauh, mengaguminya dalam sembunyi, itu berarti aku sudah memilikinya. Namun tidak, Dia malah semakin jauh.

Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan membuat jarak itu semakin menganga lebar, kembali menutup mata dan pintu hati untuk segala hal yang akan mengingatkanku tentang pengharapan sia-sia itu. 



Senin, 17 Oktober 2016

AKU





Penulis  :  Aulia R. Arief


Katakan saja aku bodoh

Katakan saja aku gila

Katakan saja aku gesrek

Sangat bosan bercerita dengan cinta

Sangat bosan bercerita dengan kepedihan

Sangat bosan bercerita dengan kekecewaan

Tapi, aku selalu kembali terjatuh bersama dia yang ku benci

Tapi, nyatanya dia yang aku cerita

Iya.

Hanya terjatuh tanpa pernah memungutku

Ah.

Jangankan memungutku melihatku terjatuhpun, tidak

Dan hati yang telah terhunus sebelumnya, makin pedih
dengan sebetan bahwa kau bersamanya

Akan tetapi, semua itu tetap nikmat
jika kepedihan ini dari-mu sayang

30 September 2016, merindukan Bandung ditahun 1990
yang tak akan terkunjungi lagi

Tersendat










Ia terkungkung dalam sepinya

Berkutat dalam segala ketakutan

Menangis bersama rinai hujan 

Dalam gundah ia menenggelamkan wajahnya

Ingin kupeluk segala kesedihan

Apa yang salah dengan mencoba lagi?

Salah, katanya

Aku sudah mencoba berkali-kali, imbuhnya

Sedikit lagi

Kau hanya perlu beberapa langkah lagi

Sedikit lagi, ulangku

Kau hanya perlu menutup mata

Melupakan segala gundahmu

Padamkan semua lampu

Kunci semua pintu

Tutup semua tirai dan jendela

Hingga kesedihan tak akan menyelinap

Hingga kegundahan tak akan mencuri waktumu

Rabu, 12 Oktober 2016

Selamat tinggal masa








Aku benci perpisahan

Aku benci menatap matamu yang berkaca

Bukankah sudah kuberi isyarat

Bukankah ada begitu banyak perjuangan

Kita hanyalah tentang sia-sia

Kita hanyalah tentang sebuah kisah

Seketika sunyi menari dalam senyapnya

 Seketika lonceng berbunyi tanpa gema

Mata air sungai terus mengalir

Begitupun aliran air mata di pipiku

Dalam mata sembabku ada bayanganmu

Namun aku tak melihat bayanganku dalam tatapan sendumu

Jika kau bisa pergi

Mengapa aku tidak

Jika kau bisa pergi

Mengapa aku tidak

Seribu kali

Dengan pertanyaan yang sama

Mereka seperti menikamku berkali-kali

Selamat tinggal masa

Last (Goodbye.)

Hai. Mungkin ini akan menjadi tulisan terakhirku. Atau mungkin tidak. Mungkin aku akan mengambil beberapa jeda yang cukup panjang. Atau ba...